• Slide 1 Title

    Go to Blogger edit html and replace these slide 1 description with your own words. ...

  • Slide 2 Title

    Go to Blogger edit html and replace these slide 2 description with your own words. ...

  • Slide 3 Title

    Go to Blogger edit html and replace these slide 3 description with your own words. ...

  • Slide 4 Title

    Go to Blogger edit html and replace these slide 4 description with your own words. ...

  • Slide 5 Title

    Go to Blogger edit html and replace these slide 5 description with your own words. ...

Sunday, November 28, 2010

Letusan Gunung Merapi 2010 Dasyat / Catastrophic 2010 eruption of Mount Merapi

Kali ini saya berhenti sejenak menulis artikel tentang IT, apalagi suasana di kawasan Jogja dan Sleman yang memprihatinkan karena efek dari letusan Gunung Merapi. Saya sendiri yang saat ini tinggal di wilayah Sleman, sekitar 23-24 km dari puncak Merapi turut merasakan kedahsyatan letusan yang terjadi dini hari tadi. Meskipun begitu, Alhamdulillah kami sekeluarga (dengan si kecil “fafa”) dalam keadaan sehat, meski sempat mengungsi mengingat hujan pasir, abu dan bau belerang yang cukup menyengat.
Kejadian semalam sejak sekitar jam 11 malam ( 23.00 ) mulai terdengar gemuruh yang awalnya saya kira hanya suara guntur biasa, tetapi istri saya kaget ketika mulai merasakan getaran-getaran yang menyertai gemuruh tersebut. Sekitar jam 24.00 Saya segera mengecek keluar rumah dan melihat ke arah utara (gunung merapi), dan ternyata suara gemuruh-gemuruh itu berasal dari sana, sampai puncaknya sempat terjadi gempa vulkanik yang tidak lama kemudian di ikuti letusan gunung Merapi.
Beberapa menit kemudian mulai terdengar suara seperti rintik hujan yang agak keras, yang ternyata adalah hujan pasir dari letusan tersebut. Lama-lama hujan pasir semakin deras yang semakin membuat khawatir, terutama dengan anak saya yang masih berusia sekitar 3 bulan. Hujan pasir berlangsung cukup lama, dan bau belerang ketika membuka pintu sangat terasa, dan membuat kepala pusing.
Tidak sedikit keluarga (tetangga) yang segera meninggalkan rumahnya, yang hampir dipastikan mereka menuju ke selatan, menjauhi gunung Merapi. Awalnya saya berencana langsung meninggalkan rumah dengan istri dan si kecil “fafa”, tetapi karena hujan pasir dan abu yang semakin deras, saya masih fikir-fikir, karena selain resiko hanya dengan menggunakan kendaraan bermotor, pasti di jalanan macet.
Sambil memantau keadaan terkini melalui televisi dan Internet ( http://merapi.combine.or.id/ ), saya menunggu suasana agak mereda, sampai akhirnya sekitar jam 01.30 WIB kami memutuskan “ngungsi” ke rumah mertua saya di Piyungan Bantul, mengingat kekhawatiran akan kondisi bayi kami. Setelah perjalanan yang cukup menegangkan (karena hampir seluruh wilayah jogja hujan abu yang cukup deras sehingga jarak pandang juga pendek), sekitar jam 02.30 Alhamdulillah akhirnya kami sampai dengan selamat.

Beberapa Foto

Beberapa foto suasana jalanan di jogja, sleman dan sekitarnya yang sempat saya ambil pada keesokan paginya, Jum’at 5 November 2010.
Semoga musibah ini bisa mengingatkan kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepadaNya, mengingat begitu dekatnya kematian dan lebih menyadarkan kita bahwa hidup di dunia hanya sementara. Dan semoga saudara-saudara kita yang terkena musibah, berada di tempat pengungsian diberikan kesabaran, ketabahan dan mendapatkan pertolongan Allah subhanahu wata’ala.

Bagi teman-teman yang belum banyak tahu situasi akibat Gunung Merapi (mungkin baru sebatas melalui televisi atau koran), berikut “sebagian” foto-foto akibat dahsyatnya letusan Gunung Merapi. Semoga dengan melihat foto-foto ini semakin mengingatkan, menyadarkan kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala (Klik gambar berikut untuk melihat di website sumber atau disini)
foto-foto merapi
Sangat disayangkan disaat kondisi seperti itu masih ada (banyak) orang memanfaatkan dengan hal-hal diluar akal sehat, seperti pencurian ternak korban merapi, menyebarkan sms yang menimbulkan kepanikan, bukan pengungsi yang meminta bantuan, adanya pengganggu komunikasi radio di merapi dan sebagainya.
Update:
Ternyata ada yang lebih parah, misalnya adanya Ritual tolak bala (Seharusnya bencana ini menjadi peringatan yang cukup jelas untuk menjauhi segala bentuk kesyirikan… )

In English


This time I paused for a moment to write articles about IT, especially the atmosphere in Yogyakarta and Sleman area of concern because of the effects of the eruption of Mount Merapi. I myself currently living in the area of Sleman, about 23-24 km from the summit of Merapi eruption also feel the awesomeness that happened early this morning. Even so, Alhamdulillah our family (with the little "Fafa") in good health, although the rain had given refuge in the sand, ash and sulfur smell that stung enough.Incident since last night around 11 pm (23:00) starts rumbling sound that at first I thought only the usual thunder, but my wife was shocked when I started to feel the vibrations of thunder accompanying it. At about 24.00 I immediately checked out of the house and look to the north (Mount Merapi), and it turns out and thunderous roar came from there, until the peak of volcanic earthquake which had occurred shortly after the eruption of Mount Merapi follow.A few minutes later began to sound like a rather harsh rain, which turned out to be rain of sand from these eruptions. Long sand increasingly heavy rain increasingly alarmed, especially with my children who were aged about 3 months. Rain sand long enough, and the smell of sulfur when it opened the door very painful, and makes the head spin.Not a few families (neighbors) who immediately left his home, that almost certainly they head south, away from Mount Merapi. Originally I planned to simply leave the house with his wife and the little "Fafa", but because of sand and ash rain that increasingly heavy, I still think-thought, because in addition to the risk of using only the motor vehicle, certainly in a traffic jam.While monitoring the current situation through television and the Internet (http://merapi.combine.or.id/), I waited for the atmosphere somewhat subsided, until finally at around 1:30 pm we decided to "refugees" into my in-laws house in Bantul Piyungan, given concerns will be our baby's condition. After a fairly stressful journey (because almost all regions jogja heavy ash falls enough so that the visibility was too short), at around 2:30 Thank God we finally arrived safely.Multiple PhotosSome photos street atmosphere in jogja, Sleman and beyond that I can take the next morning, Friday 5 November 2010.
abu-merapiabu-merapi-gejayanabu-merapi-monjaliabu-merapi-sleman-2

Hopefully, this tragedy can remind us to always get closer to Him, remembering death so close and more we realize that life in the world is only temporary. And may our brothers and sisters affected by the disaster, was granted refugee patience, fortitude and get the help of Allah Subhanahu wata'ala.
foto-foto merapi
For friends who do not much know the situation due to Mount Merapi (perhaps it is merely through television or newspapers), the following "partial" photographs due to the enormity of the eruption of Mount Merapi. Hopefully by seeing these pictures getting reminded, reminds us to get closer to Allah Subhanahu wata'ala 

It is unfortunate when such conditions still exist (many) people use to things beyond common sense, such as cattle theft victim trim, spreading the sms that cause panic, not the refugees who seek help, the bully on the trim of the radio communication and so forth.Update:Apparently there are more severe, such as the ritual of starting the plague (this disaster should be a pretty clear warning to stay away from all forms of kesyirikan ...)

Categories:

0 komentar:

Post a Comment